Different Summers




Kalau kamu sadar, aku tersiksa dengan semua kebohongan status ini! 






 
Aku dan Daniel sudah bersahabat sejak kami masih kecil. Rumahku dan rumahnya Daniel juga sangat dekat dan kami selalu bersekolah di sekolah yang sama di Jakarta. Sekarang kami duduk dibangku SMA. Aku dan Daniel sangat berbeda, bukan beda karena aku cewek dan dia cowok tapi sifat dan perilaku kami bisa dibilang berbanding terbalik. Daniel adalah cowok yang begitu detail akan apapun, dari ujung rambut hingga ujung kaki pun ia perhatikan betul-betul. Sedangkan aku? aku sama sekali tidak begitu peduli dengan semua itu. Aku dikenal sebagai cewek tomboi, untuk urusan perawatan kulit, perawatan kuku ataupun rambut aku tidak pernah melakukannya kesalon pun itu karena dipaksa oleh mama untuk potong rambut dan itu pun aku begitu malas. Daniel juga rajin bangun pagi, katanya bangun pagi itu buat tubuh jadi sehat, kita bisa meluangkan waktu untuk jogging. Beda dengan aku yang begitu malas untuk bangun pagi. Bangun pagi untuk sekolah pun aku harus dibangunin sama mama, kadang Daniel yang membangunkanku dengan teriakan-teriakannya dan suara falsnya yang merusak gendang telingaku, ya dia teriak tepat dikupingku. Aku sering melemparnya dengan bantal guling atau bola basket yang ada dikamarku.
"RA, BANGUN WOE DASAR KEBO!" Setelah itu dia nyanyi-nyanyi gak jelas dengan suara falsnya dan guling melayang kekepalanya.

Untuk urusan olahraga, Daniel tidak begitu tertarik. Beda dengan aku yang begitu menyukai basket, sepak bola, bahkan aku juga sering mengikuti eksschool panjat tebing. Daniel lebih suka meluangkan waktunya untuk belajar, mengikuti les matematika dan les biola.
Aku begitu cuek dengan apapun, beda dengan Daniel yang selalu memperhatikan apapun. "Raquel, ini rambut kamu kusut banget kamu keramas gak sih?"
"bawel banget" jitakan melayang ke kepalanya.

Keluargaku dan keluarga Daniel begitu dekat, kami sering liburan musim panas bersama-sama. Biasanya kami menghabiskan waktu kami untuk piknik, atau menghabiskan waktu untuk bermain pasir dipantai. Aku masih ingat ketika Aku dan Daniel berumur 5 tahun, seperti biasa keluarga kami menghabiskan liburan musim panas bersama. Dan waktu itu kami berada di Pantai.

"laquel" panggil Daniel dengan suara cadelnya.
"apa Daniel"
"lihat, langit jadi olanye kenapa ya?"
"mataharinya kan mau tenggelam" kataku yang sedang duduk dengannya dipasir sambil melihat matahari terbenam.
"ha tenggelam? Apa matahalinya gak bisa belenang?"
"duh gak tau deh" pada dasarnya aku emang sejak kecil cuek.
"hiks huaaa" tangis Daniel menggelegar.
"ssst diam"
"kasihan matahalinya tenggelam, aku takut Laquel. Aku takut langit jadi gelap" katanya sambil menangis
"kamu tenang aja, mataharinya emang tenggelam tapi kan masih ada aku. Aku yang akan jaga kamu, aku yang jadi matahari buat kamu biar kamu gak takut gelap" Daniel berhenti menangis, ia mengelap air matanya.
"janji?" katanya sambil menyodorkan jari kelingkingnya.
"janji" aku sambut jarinya dengan jari kelingkingku.
Cerita ini berawal ketika Daniel mulai jatuh cinta dengan seorang cewek populer disekolah, Chacha. Cewek feminim, dengan rambut panjang lurusnya yang sering ia gerai, populer dan salah satu anggota cheers. Tak salah kalau Daniel begitu menyukainya, hingga suatu saat Daniel berani menyatakan cintanya. Ya, Chacha menerima cintanya. Itu karena bantuanku. Aku yang merencanakan suprise dinner yang begitu mewah untuk Chacha dan malam itu mereka jadian.
Jujur, aku tidak begitu suka dengan Chacha. Dia sering memanfaatkan Daniel. Sebenarnya, aku gak bisa membiarkan semua ini, tapi melihat Daniel bahagia bersamanya, apa boleh buat?

Jika dihitung-hitung sudah 3 bulan mereka pacaran tapi gak lepas dari kata putus nyambung. Chacha sering sembarangan mutusin Daniel, entah itu masalahnya sepele atau karena kecerobohan Daniel yang kadang telat jemput Chacha, bahkan tidak ada masalah apa-apa Daniel diputusin. Tapi endingnya mereka balikan lagi.

Dan pagi itu aku melihat Daniel murung, aku sudah tebak itu pasti gara-gara cewek itu.
"muka kusut aja, sana setrika"
"Chacha, Ra! Kemarin aku baru putus sama dia dan sekarang dia udah punya cowok lain"
"terus"
"Raquel!"
"terus apa masalahnya?"
"dia pacaran sama Romeo, aku gak terima Ra!"
"udahlah relain aja, kalau dia emang sayang sama kamu dia gak mungkin ninggalin kamu"
"sakit hati aku Ra, sakit banget rasanya" dia mengacak-acak rambutnya frustasi
"udahlah, jangan dipikirin"
Aku coba buat tenangin Daniel, sahabatku. Sampai begini dia depresi hanya gara-gara cewek matre kayak Chacha.
ôôô
"Ra, Raquel"
"lah berisik banget sih"
Daniel teriak-teriak masuk kamarku dan aku sedang sibuk main video games.
"aku punya ide, kamu harus bantuin aku"
"ide apa'an?"
"aku tahu cara bales perbuatannya Chacha"
"cewek itu lagi, udahlah lupain dia"
"gak bisa Ra, aku gak bisa biarin dia bahagia sama Romeo. Jujur ya, aku masih sayang sama dia"
"cewek matre kayak dia buat apa disayangi"
"maksud kamu apa sih Ra?"
Aku masih sibuk dengan video games yang aku mainkan, ferrari.
"Ra, kamu harus jadi pacar pura-pura aku"
Aku kaget dan melotot kearahnya, mobil yang kumainkan menabrak mobil lain dan game over.
"gila"
"ayolah Ra, please ini ide yang paling bagus"
"ide yang bagus? Ini ide yang paling gila"
"Ra, kamu tega ngebiarin sahabat kamu sakit hati kayak gini?"
Daniel mohon-mohon dan mukanya dimelas-melasin.
"untungnya apa coba kalau aku jadi pacar pura-pura kamu, malu yang ada"
"gampang, kamu tenang aja semua PR kamu, aku yang kerjain dan tentunya selama kamu jadi pacar pura-puraku kamu bisa makan gratis sepuasnya dikantin aku yang bayar"
"serius?"
"iya serius, cuma pura-pura aja kok"
"bener cuma pura-pura"
"iya tenang aja, kita harus kerjasama. Janji?" katanya sambil menyodorkan jari kelingkingnya.
"hmm" dengan malas aku kaitkan jari kelingkingku dengan jarinya.
"Ra, ayo Ra"
"Daniel, kamu apa-apa'an aku lagi main basket" si Daniel narik tangan aku.
"ada Chacha sama Romeo disana, ayo Ra"
Dengan paksa Daniel narik tangan aku dan aku terpaksa keluar dari lapangan basket, padahal aku masih pengen main basket.

Ternyata dia membawaku ke kantin dan disitu ada Chacha sama Romeo yang lagi asyik makan.
"Raquel sayang, kamu mau makan apa?" tiba-tiba Daniel berkata seperti itu, keras lagi. Mataku langsung melotot kearahnya. Dengan paksa dia menyuruhku duduk. "mbak, bakso dong dua sama es jeruk dua gak pake lama" katanya sama Mbak Tatik yang punya kantin.
"siap mas Daniel" sahut Mbak Tatik.
"gila kamu Dan"
"udah ikutin aja" bisiknya sambil melirik kearah Chacha.

Tiba-tiba Romeo dan Chacha berdiri dari kursinya dan beranjak dari kantin, aku lihat dia sesaat melirik kearahku dan Daniel. Ini memang gila.
"Dan, tuh dia udah Pergi"
"emangnya cuma dia apa yang bisa cepet dapet pacar, aku juga bisa kali" kata Daniel.

Aku berpikir, jika aku cuma dijadikan bahan permainannya Daniel. Sebenarnya aku tidak mau melakukan kebohongan ini, tapi demi sahabatku.
Semua kebohongan ini kita lakukan gak cuma sekali tapi berkali-kali. Setiap ada Chacha, akting kita dimulai dan seperti biasa Daniel memanggilku dengan sebutan sayang, itu membuatku risih.
Malam minggu, Daniel mengajakku untuk pergi makan malam. Dia heboh banget "Ra, ayolah pake baju ini apa susahnya sih"
Dia menyuruhku memakai dress pendek warna biru dan ada pitanya, membuatku risih.
"males"
"ayolah Ra, sekali aja"
"males" kataku cuek. Apa-apa'an si Daniel nyuruh aku pakai baju yang kayak gini, lihat aja aku pengen muntah.
Dia duduk ditempat tidurku, seperti berpikir.
"oke, terserah kamu mau pake baju apa, kita berangkat makan malam sekarang"

Untung Aku gak jadi pakai baju konyol itu. Akhirnya aku keluar dengan celana pendek dan baju kotak-kotak lengan panjang. Ternyata Daniel mengajakku ke restauran mewah, didalam sudah kuduga ada Chacha sama Romeo. Ketika makan hidangan, Daniel begitu gusar. Ia begitu tidak tenang
"Dan, kok gak dimakan sih"
"udah, habisin aja makanannya" katanya sambil melirik Chacha dan Romeo.
"hey, kalian ada disini juga" Chacha dan Romeo menghampiri meja makan kami. Malam itu Chacha begitu anggun dengan balutan dress pendek warna biru, sama dengan dress yang tadi Daniel paksa biar kupakai. Hanya motifnya saja yang berbeda.
"oh iya, kita lagi habisin malam mingguan disini" kata Daniel.
"boleh gabung?"
"oh iya" Daniel begitu kikuk, begitu pula aku, rasanya kalau kayak gini kita kayak lagi double date. Sendok demi sendok aku makan soup itu, soup yang begitu mahal tapi rasanya begitu tidak enak karena suasananya seperti ini. Chacha begitu menikmati bersenda gurau dengan Romeo, sedangkan Aku dan Daniel, oh tidak usah ditanya. Daniel dan aku begitu kacau.
"by the way, sejak kapan kalian jadian?"
"uhuk!" pertanyaan Chacha sukses buat aku tersedak.
"hati-hati Ra!" Chacha lalu memberiku air putih.
Daniel tiba-tiba menghampiri kursiku "hati-hati dong sayang. Kayaknya hari ini Raquel lagi gak enak badan kita harus balik deh"
"kita juga mau pulang nih, Romeo udah malam pulang yuk"

Dan akhirnya mau gak mau kita jalan dan keluar dari restauran itu bersama-sama. Ketika menuju tempat parkir Chacha sama Romeo bercanda dan saling tertawa. Daniel menggandeng tanganku erat sekali "Ra, kamu harus banyak istirahat" katanya sok perhatian. Aku tahu itu untuk manas-manasin Chacha. Ini buruk, buruk sekali. Rasanya aku ingin jitak kepalanya Daniel.
"wah, kalian romantis banget ya" kata Chacha.
"tentu" Daniel memelukku. Aku coba memberontak.
"Daniel, kamu gila" bisikku.
"kita emang pasangan yang romantis, iya kan Raquel sayang" dan dia menciumku dihadapan Chacha dan Romeo. Aku dorong tubuhnya, dan aku berlari dari tempat itu. Aku benar-benar malu dibuatnya.
"Raquel" Daniel memanggilku. "kamu mau kemana?" Aku tetap berjalan, berharap ada taksi atau kendaraan umum yang lewat.
"Ra, kamu mau kemana?" dan untungnya ada, aku langsung masuk kedalam taksi.
                                                                        ôôô
Sejak kejadian itu Daniel tidak lagi kerumahku dan menggangguku seperti biasanya. Bahkan disekolah kami tak saling menyapa. Aku lelah dengan semua kebohongan yang dibuatnya, aku merasa tersiksa dan dipermalukan. Memang dia sahabatku dan aku harus menolongnya tapi aku gak bisa nerusin semua kebohongan ini. Sekarang, terserah jika dia tidak mau bersahabat denganku lagi.
Aku jadi ingat ketika dulu Aku dan Daniel masih kecil, sejak kecil kami memang sudah berbeda. Daniel begitu cengeng, dia gampang menangis tidak dengan aku. Dia begitu penakut akan apapun, apalagi dengan suasana baru yang belum dikenalnya. Aku ingat ketika itu pertama kali kita masuk TK. Dia begitu takut dan tidak mau membaur dengan teman-teman yang lain. "jangan tinggalin Daniel ma" rengeknya sambil memeluk mamanya.
"Daniel kamu harus sekolah" mamanya mencoba membujuk Daniel.
Aku menghampirinya "Daniel duduk sama aku yuk"
Aku gandeng tanggannya, "kamu gak usah takut, aku selalu nemenin kamu kok"
"janji? Ya" katanya menyodorkan jari kelingkingnya.
"iya aku janji" dengan senang hati aku kaitkan jari kelingkingku ke kelingkingnya.
Semuanya berlalu, masa-masa itu sudah berlalu. Kini Aku dan Daniel sudah tidak seperti dulu lagi. Kita sudah beranjak dewasa. Dan sepertinya dia tidak membutuhkanku lagi untuk menjaganya. Yah, menjaganya ketika hari gelap dan dia ketakutan, menemaninya ketika ia takut orang-orang yang tidak ia kenal disekelilingnya.
Summer, seperti biasa keluargaku sibuk menentukan tempat untuk liburan, tapi kali ini aku tidak bersemangat untuk membicarakannya. "Raquel, kamu maunya nanti liburan kemana"
"dirumah" jawabku singkat. Mama sama Papa begitu bingung dengan jawabanku.
Musim panas kali ini memang berbeda, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Biasanya Aku dan Daniel bersemangat membicarakan ini, kita yang selalu menentukan liburannya dimana. Aku selalu memikirkannya, aku merindukannya.

Hingga akhirnya liburan itu tiba, keluargaku dan keluarga Daniel memutuskan untuk menghabiskan musim panas bersama di Bali.
"Raquel, bangun nak" mama membangunkanku.
"hei, sudah pagi Raquel, kita harus cepat-cepat ke bandara hari ini kita kan mau ke Bali" kata papa.
"Raquel, badan kamu panas sekali" Ucap mama tiba-tiba. Tubuhku begitu panas, kepalaku terasa pusing.
"pa, bagaimana Raquel sedang sakit" papa mencoba memeriksa tubuhku, menyentuh keningku dengan telapat tangannya.
"terpaksa kita cancel liburan ke Bali"
papa menelpon keluarga Daniel dan memberi tahu bahwa aku sakit. Mungkin tahun ini tidak akan ada yang namanya liburan musim panas.
                                                                        ôôô
Hari-hari berlalu,
sudah 1 minggu aku sakit dan dirawat dirumah sakit. Aku bosan harus meminum obat yang pahit ini.
"Raquel, minum obatnya, apa kamu gak mau sembuh?" kata mama.
Aku memikirkan Daniel, aku sakit tapi dia sama sekali tidak menjengukku. Segitu marahkah dia denganku hanya gara-gara Chacha? dia lebih memilih cewek itu daripada sahabatnya sendiri. Jadi, dia benar-benar sudah tidak menganggapku lagi sebagai sahabatnya. Aku benci Daniel, aku benar-benar membencinya.
"Raquel, minum obatnya sayang! kalau begini terus kapan kamu bisa sembuh"
Aku terdiam, rasanya aku ingin menemui Daniel dan melempar kepalanya dengan bola basket.
"Raquel, sudah 2 hari kamu gak minum obat jangan buat mama sedih sayang"
"Aku benci Daniel" kataku.
"Aku benci dia ma, aku sakit berhari-hari tapi dia sama sekali gak jenguk aku" mama terdiam dan menatapku.
"apa dia udah gak nganggep aku sebagai sahabatnya"
"Raquel, jangan bicara seperti itu" mama mengelus rambutku. "Daniel menyayangimu, dia sangat menyayangimu tapi, mungkin takdir berkehendak lain"
"maksud mama?"
"sebaiknya mama harus kasih tau semua ini, sebenarnya Papa dan keluarganya Daniel tidak memperbolehkan Mama untuk kasih tahu kamu sebelum kamu sembuh tapi kamu harus tahu sayang"
"tahu apa ma?"

"Daniel, dia sudah tenang disurga"
"konyol!"
"Raquel, kamu yang sabar ya sayang. Daniel telah pergi meninggalkan kita"
"gak lucu, mana dia? mau aku pukul kepalanya"
"waktu dia dan keluarganya berada di bandara menunggu kita, papa kamu mengabarinya kalau kamu sakit dia sangat khawatir sama kamu, dia langsung meninggalkan bandara dan membatalkan liburan musim panas ke Bali waktu itu. Daniel ingin menemuimu tapi mobil yang dikendarainya menabrak truk"
"gak, gak mungkin! Aku gak percaya" Air mata itu keluar. Ini adalah pertamanya aku menangis untuknya.
"DANIEL AKU BENCI KAMU!!!" Aku berteriak histeris, melempar selimut dan bantal.
"tenang Raquel!!"
"AKU BENCI KAMU DANIEL!!!" Aku cabut selang infusku dan coba turun dari tempat tidur, darah keluar begitu derasnya dari lenganku. Aku coba keluar dari kamar, tapi terasa pusing, aku tidak sadarkan diri.
"Ya Tuhan Raquel!!"

"Aku coba buka mataku, aku lihat kesekeliling. Aku masih dirumah sakit, lenganku yang berdarah kini sudah bersih, selang infus itu pun sudah menempel rapi dilenganku.
"sudah papa bilang jangan kasih tahu Raquel tentang hal ini sebelum ia sembuh"
"tapi pa, mama kasihan sama dia. Raquel selalu memikirkan Daniel dia sampai tidak mau minum obat"
"mama" panggiku lemah. Aku lihat mereka sedang berdebat.
"Raquel, kamu sudah sadar sayang" mama menangis. "jangan lakukan hal seperti tadi, mama takut Raquel"
                                                                        ôôô

"RAQUEL!!!" bentak mama.
"mama gak mau lihat kamu buang-buang obat lagi"
"Raquel, lihat mama!" Aku terdiam dan memandang kearah jendela.
"sampai kapan kamu begini?"
"sampai Daniel jenguk aku"
Tiba-tiba mama menangis.
"Raquel, maafkan mama saying, gak seharusnya mama memberimu kabar buruk ini ketika kondisimu seperti ini"
mama menangis, suaranya sampai memenuhi kamar rumah sakit ini.
"mama mohon jangan begini sayang, kasihan Daniel disana dia pasti sedih melihatmu seperti ini. Sudah 3 minggu kamu sakit dan kamu tidak mau minum obat. Daniel pasti sedih melihatmu seperti ini"
Air mata itu jatuh lagi, ya aku menangis. Aku jadi cengeng sekarang.
Aku jadi ingat masa-masa dulu ketika Aku dan Daniel masih bersama.
Waktu itu Aku dan Daniel menanam dua biji bunga matahari. Beberapa minggu kemudian biji itu tumbuh, walaupun belum begitu tinggi.
"Laquel" panggilnya. "lihat bunga ini, mati"
"iya karena aku tidak menyiraminya" kataku yang melihat bunga matahariku mati.
"kamu sih, lihat bungaku tumbuh bagus kan" katanya.
"iya iya bunga kamu yang bagus" Bunga matahari Daniel tumbuh subur sedangkan punyaku sudah mati.
"yahh"
"kamu ngapain jadi sedih, yang mati kan bunga aku"
"iya, tapi kan bungaku jadi sendilian, kasihan"
"itu kan cuma bunga" kataku.
"Laquel, aku gak mau jadi bunga ini" katanya sambil menyentuh bunga matahari miliknya.
"kenapa?"
"aku takut sendilian, apalagi kalau kamu ninggalin aku"
"percaya sama aku, aku gak akan ninggalin kamu sendiri. Aku janji"
kataku sambil menyodorkan jari kelingkingku. Dia tersenyum dan menyambut jari kelingkingku dengan jari kelingkingnya.

"Aku gak akan ninggalin kamu Daniel" kataku.
"Aku butuh kamu"
                                                                        ôôô

Aku memuntahkan obatku lagi.
"mama sudah gak tahu harus berbuat apa. Sampai kapan kamu begini Raquel?"
"Raquel, jangan seperti ini sayang. Jangan buat mama sama papa sedih"
"aku gak butuh obat, aku butuh Daniel"
mama menangis lagi, sudah berapa kali aku membuatnya menangis.
"baik kalau itu mau kamu" ucap papa.

Dan hari ini papa sama mama membawaku menemui Daniel dengan selang infus yang masih dilenganku. Sebenarnya dokter tidak memperbolehkanku karena kondisiku yang masih lemah tapi papa memaksa membawaku keluar dari rumah sakit dan janji hanya sebentar saja.

Ketika sampai di pemakaman aku tak percaya kalau makam yang di hadapanku bertuliskan nama sahabatku. Sahabat yang selalu menemaniku sejak kecil dan air mataku jatuh lagi.
"pa, ma tinggalin Raquel sendiri"
"tapi Raquel"
"aku mau sendiri disini, nemenin Daniel"
"papa sama mama nunggu kamu di mobil"

"Daniel" panggilku. "Aku kangen kamu"
Rasanya aku sudah tidak bisa bicara apa-apa, padahal begitu banyak yang ingin aku bicarakan. Hanya tangis, ya aku cuma bisa menangis.
"Daniel, aku minta maaf, maafin aku Daniel. Lihat ini"
Aku kaitkan jari kelingking kananku dengan jari kelingking kiriku. "Aku janji gak akan ninggalin kamu"
Aku senderkan kepalaku ditanah yang penuh dengan bunga mawar itu. Aku menangis sepuas-puasnya hingga akhirnya aku tertidur.

 








"Ra, Raquel bangun nak" Aku terbangun dan lihat kesekeliling. Ternyata aku masih di pemakaman.
"sudah waktunya pulang Raquel" kata mama.
"tapi ma, kasihan Daniel dia sendirian disana. Dia pasti ketakutan. Dia takut dengan suasana yang baru"
Mama tersenyum dan mengusap pipiku yang kotor dengan tanah.
"Daniel memang tidak ada disini tapi dia ada disini" Mama menaruh telapak tangannya di dadaku.
"dia ada di hati kamu sayang, dia tidak akan pernah merasa kesepian selama dia ada disini, di hati kamu. Kamu harus jaga dia baik-baik dan jangan lupa untuk selalu mendoakannya"
Aku tersenyum mendengar itu dan mama langsung memelukku.
                                                                       
ôôô
Semakin hari keadaanku semakin membaik. Aku rajin minum obat dan sampai akhirnya Aku diizinkan untuk pulang kerumah, tentunya Aku bisa kesekolah lagi.
Aku jadi kangen saat-saat Daniel membangunkanku dengan teriak-teriakan dan suara falsnya. Aku kangen saat-saat dia menggangguku.

"Ra, Aku turut berduka cita atas kepergian Daniel dan aku seneng kamu bisa berangkat sekolah lagi"
"terimakasih" jawabku.
"maafin aku Ra"
"untuk apa?"
"untuk semua kelakuan aku ke Daniel dan kamu. Selama ini aku hanya memandang cowok dari materi, tapi sekarang aku sadar itu adalah perbuatan yang buruk"
"bagus" jawabku singkat.
"ini semua berkat kamu dan Daniel"
"lucu" Aku sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan ini.
"aku sudah tahu semuanya, Ra tentang kamu dan Daniel yang pura-pura pacaran hanya karena ingin membuatku cemburu dan ketika kalian marahan. Dia menemuiku dan menceritakan semuanya disaat itu juga dia bilang tidak menyukaiku lagi dan menyesal melakukan ini semua hanya untuk aku, cewek matre. Dia lebih menyukaimu"
“maksud kamu?”
"iya, dia bilang dia menyukaimu. Dia ketakutan ketika kamu marah. Dia begitu khawatir dan ingin menemuimu tapi gak berani. Daniel sayang sama kamu Ra"
Air mata itu keluar lagi, Aku gak bisa menahannya dan Chacha memelukku.

Setelah pulang sekolah Aku pergi kemakamnya Daniel dan aku membawa setangkai bunga matahari.
"Daniel, aku sayang kamu"







Created by Rina
Alumni 2014/AP
Follow Me : @Rinzzle666
Pin: 53A1A472

 
Me and Anggra, kenangan di SMK ga akan bisa kita lupain kita masih bersahabat meski lulus dan terpisah oleh jarak ...













Daftarkan email anda untuk update berita terbaru:

0 Response to "Different Summers"

Poskan Komentar