Black Coffee


Black Coffee






Rindu itu seperti pekat malam yang mendekap sepi.
Disaat cinta jauh ditepi namun masih terasa dekat dilubuk hati.


 


Sore ini cuaca begitu buruk. Hujan diluar sana tidak juga berhenti. Seakan-akan menumpahkan segala kerinduannya pada bumi. Kedai kopi ini makin lama makin sepi tapi aku masih disini. Duduk dikursi paling sudut yang berada dekat dengan jendela kaca sehingga hujan terlihat jelas dari sini. Kopi ini semakin lama semakin dingin tapi aku masih enggan untuk menyentuhnya. Pandanganku tetap tertuju kearah jendela kaca hingga suara derit handphone menyadarkanku.
"Dev, maaf aku baru mengabarimu. Aku gak bisa datang hari ini, ada urusan penting yang harus aku selesaikan"
Urusan lagi? Begitu sibukkah dia hingga selalu membatalkan janjinya. Nadia, kamu memang sudah berubah sekarang.


Hubunganku dan Nadia berjalan begitu lama, 3 tahun. Kita pacaran sejak pertama masuk SMA, dia cewek pertama yang buat aku ngerasain apa itu yang namanya cinta. Ya, dia cinta pertamaku. Dia cewek baik, begitu cantik dengan rambut panjang gelombangnya, periang, cerewet hahaha. Tapi, sekarang dia berubah aku kangen dia yang dulu.
Nadia adalah tipe cewek yang optimis dan pantang menyerah untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Dia ingin sekali mewujudkan cita-citanya menjadi designer terkenal. Akhir-akhir ini ia disibukkan mengurus berbagai perlengkapan untuk kuliah di Inggris. Nadia akan meninggalkanku.
Hari semakin malam tapi aku masih duduk disini, di kedai kopi ini. Entah apa yang aku tunggu padahal seorang yang dari tadi aku tunggu jelas-jelas membatalkan janjinya. Lalu untuk apa aku masih disini?
Rasanya aku tidak ingin meninggalkan kedai ini. Begitu banyak kenangan tentang aku dan Nadia. Kita selalu bertemu disini, kedai ini adalah tempat favorite kita berdua.
"maaf mas sudah waktunya kedai ini tutup"
Suara pelayan membuatku tersadar dari lamunan bayang-bayang Nadia.
Setelah membayar secangkir kopi yang kupesan tadi, aku meninggalkan kedai ini.

Setelah sampai rumah aku rebahkan tubuhku diatas tempat tidur.
"Devan!!" tiba-tiba ada yang memanggiku.
"ada apa ma?" kataku sambil membuka pintu kamar.
"kamu udah persiapan untuk kuliah di Bandung?"
"udah tapi masih ada yang kurang, besok Devan urus lagi"
"om kamu udah gak sabar katanya nunggu kamu tinggal dirumahnya"

Aku kuliah di Bandung sedangkan Nadia kuliah di Inggris, kita begitu jauh. Apa aku akan menjalani hubungan Long Damn Relationship atau Nadia akan memutuskanku?
Tidak, aku masih menyayanginya. Aku harap ia tidak mengakhiri hubungan ini.
~ ^ ~

Masih di kedai ini. Duduk dikursi yang berada didekat jendela kaca tapi kali ini seorang yang aku tunggu dari kemarin sekarang ada dihadapanku, Nadia.
"aku kangen kamu Nad!" kataku yang tak henti-henti menatapnya aku begitu merindukannya. Dia minum secangkir kopi hitam yang masih hangat, "Dev!" dia genggam tanganku yang sedari tadi menempel dimeja.
"aku juga kangen sama kamu, seminggu lagi aku akan berangkat ke Inggris. Maafin aku Dev"
Aku alihkan pandanganku kearah jendela kaca sehingga yang kulihat hanya lalu lalang kendaraan, begitu sakit menatap seorang gadis yang berada dihadapanku sekarang. Gadis yang akan selalu aku rindukan setiap saat.
"maafin aku Dev, aku gak bisa terusin hubungan kita"
Sudah kuduga dia akan bicara seperti ini. Dia menangis, dia genggam tanganku erat. Air mata itu keluar dari mata indahnya.
"hey, kenapa bersedih?"
Aku usap air mata
yang membasahi pipinya.
"kamu hebat akhirnya kamu bisa juga ke Inggris. Itu impian kamu kan? Kamu akan menjadi seorang designer profesional aku yakin kamu bisa Nad" kataku lalu tersenyum.
"tapi Dev, aku akan ninggalin kamu"
"siapa bilang? Kamu akan tetap disini, dihati aku dan kedai ini adalah tempat dimana kita menyimpan semua kenangan yang pernah kita lalui bersama. Aku harap kamu gak akan lupa sama aku Nad, temui aku disini"

Salah satu keputusan tersulit dalam cinta adalah saat kita harus memilih untuk bertahan atau melepaskan. Dan aku memilih untuk melepaskan Nadia pergi, ini untuk kebaikannya. Aku yakin dia akan menjadi orang yang sukses. Aku mencoba untuk tersenyum didepannya, bukan karena aku sudah siap untuk berpisah dengannya ini untuk membuatnya tidak sedih lagi. Tidak ada seorang pun yang siap dengan perpisahan. Perpisahan selalu saja menyisakan rongga kecil yang hilang didalam hati.
Aku memeluknya, dua cangkir kopi hitam ini menjadi saksi perpisahan kita.
~ ^ ~


Musim panas, musim dingin, musim semi dan musim gugur. Waktu berjalan begitu cepat. 5 tahun berlalu dan kini aku sudah bekerja disalah satu perusahaan diJakarta.
Tapi, mengapa aku tetap berada ditempat yang sama?
Menunggu dirimu dikedai kopi yang biasa kita kunjungi. Aku sendirian duduk disini, dikursi paling sudut yang dekat dengan jendela kaca. Aku masih tidak bisa melupakanmu. Ingatan tentang kita masih ada dikepalaku. Seorang pelayan mengantarkan secangkir kopi hitam untukku, "silahkan" katanya tersenyum.
"terimakasih" ucapku. Aku hirup aroma kopi yang masih panas untuk diminum itu. Rasanya seperti ada Nadia disini, aroma kopi ini membuatku merasakan ada Nadia disini, disampingku.

Senin, Selasa, Rabu, dan seterusnya, setiap hari. Aku datang kekedai kopi ini. Duduk dikursi paling sudut, pandanganku tetap sama kearah jendela kaca. Aku tidak saham kenapa ada orang yang rela menunggu begitu lama untuk sesuatu hal yang tidak pasti. Orang itu, aku.
Tapi, aku tetap yakin Nadia akan menemuiku disini, dikedai kopi ini.

Tiap detik, menit, jam aku duduk dikedai ini hingga suatu waktu ada seorang gadis menghampiriku.
"sendirian? Boleh duduk?"
"ya" jawabku sedikit bingung.
"kenalin aku Laura" katanya sambil menyodorkan tangan kanannya.
"Devan" kataku menyambutnya dengan hangat. Kita habiskan waktu yang begitu panjang untuk mengobrol.
"hampir tiap hari kamu berada disini, apa ini tempat favoritemu?"
"kamu sering memperhatikanku"
"hahaha GR, mau gak mau sih aku datang kekedai ini dan tiap hari aku lihat kamu duduk disini, apa ini tempat favoritemu?"
Aku tersenyum mendengarnya, tapi pandanganku tetap kearah jendela kaca.
"yah, tepatnya favorite aku dan dia"
"Wahh, siapa? Kayaknya spesial banget"
"dia gadis bermata indah dengan rambut bergelombang yang halus, aku menunggunya"

Hujan, panas, hangat, dingin cuaca dan temperatur sering berubah-ubah. Tapi, aku tidak pernah berubah. Aku masih disini dikedai kopi ini. Mungkin para pelayan sudah bosan melihatku atau para pelanggan yang mulai hafal dengan aku, laki-laki yang aneh duduk dikursi ini tiap harinya dan terus menatap jendela kaca. Mungkin satu-satunya pelanggan yang berani menghampiriku adalah Laura.
"masih menunggu?" aku tersenyum melihatnya membawa secangkir kopi hitam yang masih panas lalu duduk dihadapanku.
"dingin banget ya" katanya sambil mengusap kedua tangannya. Aku palingkan wajahku ke jendela kaca, bulan ini Paris pasti dipenuhi dengan salju yang indah.
Hari, Minggu, Bulan dan Tahun berlalu. Musim panas, musim yang kusukai. Biasanya aku dan keluarga liburan kerumah saudara di Bandung tapi kali ini aku ada ditempat yang sama, kedai kopi.
"apakah sudah datang seseorang spesial itu?"
"tidak, dia tidak akan datang"
"lalu untuk apa kamu melakukan ini?"
Aku lalu beranjak dari kedai ini.
"Dev!" Laura mengikutiku dari belakang. "Dev, tunggu!!"
"apa?"
"bertahun-tahun kamu duduk dikedai kopi itu menunggu seseorang yang spesial tapi mana seseorang itu? Menunggu tidak selama itu Dev, itu konyol!!"
"aku kira ini bukan urusanmu" aku berjalan meninggalkannya.

Ketika sampai rumah, aku rebahkan tubuhku ditempat tidur.
"menunggu tidak selama itu Dev, itu konyol" kata-kata Laura terngiang dikepalaku. Aku benar-benar kacau sekali. Aku memang konyol, aku harus sadar Nadia tidak akan pernah kembali bertahun-tahun aku menunggunya dan dia sama sekali tidak menemuiku. Tapi, perasaan ini begitu bodoh, ku begitu sulit untuk melupakannya. Aku tidak tahu kenapa tapi rasanya semakin aku berusaha untuk melupakan Nadia, aku semakin mencintainya.
Aku duduk dikursi, tapi kali ini berbeda aku tidak berada dikedai kopi melainkan diteras rumah Laura.
"ini buatan aku sendiri hlo!" katanya keluar dan membawa beberapa kue.
"maaf"
"maaf untuk apa?"
"kemarin aku . . ."
"hahaha, udahlah Dev! Santai aja"
Aku mengambil kue dan mencicipinya.
"kue buatanmu sangat enak" dia tersenyum mendengarnya.
"aku menunggunya, dia berjanji akan menemuiku ditempat itu" aku mencoba menceritakan tentang apa yang terjadi. Aku percaya Laura tulus berteman denganku.
"iya aku ngerti Dev, dia orang yang paling kamu cintai kan? Tapi, terkadang tidak baik jika kita menunggu terlalu lama untuk suatu gak yang tidak pasti dan kita tidak berbuat apa-apa untuk mengubah keadaan. Dia tidak menemuimu tapi gak ada salahnya kan jika kamu yang menemuinya?"


~ ^ ~



Aku membuka mataku disinar mentari pagi. Aku melihat jam dihandphone. Aku beranjak dari tempat tidur ke kamar mandi. Setelah siap, aku berjalan menuruni tangga dan keluar melajukan mobilku.
Laura benar, hanya laki-laki konyol yang hanya bisa menunggu ditempat yang sama dan tidak bisa apa-apa untuk mengubah keadaan.
"gimana sudah siap?" kata Laura memasuki mobil.
"siap" kataku tersenyum dan melajukan mobil menuju Malang rumah Nenek Nadia.
"jadi namanya Nadia"
"yah, itu fotonya" kataku yang menyetir sambil menunjukan foto Nadia yang ada didompet. Laura membuka dompet itu, "cantik banget, pantes kamu jadi gila kayak gini. Apa tidak ada saudara lain yang bisa dihubungi untuk mencari informasi dimana Nadia?"
"tidak ada, satu-satunya jalan adalah Neneknya. Nadia dan keluarganya pindah ke Paris dan aku tidak tahu alamatnya dimana"
Aku mengetuk pintu ketika sudah sampai dirumah yang begitu sederhana namun terasa nyaman dan asri.
"permisi"
"cari siapa?" seorang wanita yang mungkin berusia 60 tahunan yang membuka pintu.
"apa benar ini rumah neneknya Nadia?"
"benar sekali, kalian ada perlu apa?"
"saya teman Nadia nek"
"mari masuk" Aku dan Laura masuk dan kami duduk disofa.
"minum apa?"
"tidak usah repot-repot, kami hanya sebentar"
"ada keperluan apa kalian?"
"perkenalkan saya Devan, dan ini Laura. Saya mengenal Nadia sejak pertama masuk SMA, sudah lama sekali ketika lulus dan dia pindah ke Paris kita tidak pernah bertemu lagi. Kedatangan kamu kesini berniat ingin menemui Nadia. Saya ingin tahu dimana Nadia sekarang"
"jadi kamu Devan yang?"

~ ^ ~

"aku gak ngerti deh Dev, neneknya Nadia ngusir kita kemarin" kata Laura lalu meneguk kopi hitam yang masih hangat. "apa jangan-jangan dia nyangka kalau kita orang jahat? Emang kita ada tampang penculik ya Dev?"

Nadia, dimana kamu sekarang? Kenapa kamu menghilang? Bukanya kamu sudah berjanji kalau kamu akan menemuiku dikedai ini. Lihat kopi hitam ini yang menjadi saksi perpisahan kita waktu itu, terasa pahit ketika semua tak sesuai dengan harapan.

"Dev, Devan!!"
"ahm, iya!"
"hmm, malah bengong. Udah tenang aja, aku bakalan bantuin kamu buat cari tahu dimana Nadia"
Aku tersenyum mendengarnya.
Waktu terus berganti, dan aku tidak akan lelah untuk mencari dimana Nadia sekarang. Aku tidak mau hanya duduk dikursi yang konyol.
"serius kamu mau kesana lagi?" tanya Laura.
"ya, sampai mereka kasih alamat Nadia berada"

Kota Malang, kini aku berada tepat dirumah nenek Nadia lagi. Aku mengetuk pintu dan nenek Nadia yang membukakan.
"kamu lagi?" ia ingin menutup pintunya, aku menahannya.
"nek, saya mohon beritahu dimana Nadia sekarang! Saya mohon!" aku mencoba terus membujuknya dan akhirnya pintu itu terbuka. Aku dan Laura masuk lalu duduk disofa.
"tunggu sebentar" katanya lalu pergi kebelakang.
"dia mau kemana Dev?"
"mana kutahu"

Setelah beberapa menit nenek Nadia keluar dan membawa sebuah kotak berwarna putih. Ia mena vla kotak itu dan isinya sebuah sweater berwarna hitam dengan rajutan yang belum selesai, masih banyak untaian benang disweater itu. Aku sangat tidak mengerti, apa jangan-jangan nenek Nadia menyuruhku untuk merajut? Aku kan ga bisa.
"ini buatan tangan Nadia" katanya. Aku kaget mendengarnya sekaligus senang dan bangga. Nadia memang memiliki bakat desainer, sweater rajut yang belum jadi saja sudah terlihat bagus.
"ini dibuat sebelum ia pergi" ia terdiam sebentar sambil menata benang-benang yang berhamburan.
"belum selesai, tapi dia sudah pergi" setelah semua sudah rapi dia menyodorkan sweater itu padaku, "simpan ini" aku menerimanya.
"Nadia sempat berkata bahwa sweater ini untuk seseorang yang bernama Devan dan ia ingin memberikannya ketika bertemu. Tapi mungkin Tuhan berkehendak lain, sebelum rajutan ini selesai dia sudah pergi"
"kalau boleh tahu sekarang Nadia ada dimana nek?"
"surga"

~ ^ ~


"kecelakaan perawat itu merenggutnya"

"Dev, tunggu!!"

Aku berjalan, berjalan dan terus berjalan seorang diri tanpa arah, tanpa tujuan, melewati setiap malam senyap tanpa arti, tanpamu.


~ ^ ~


Aku disini tanpamu, tapi kamu masih dibenakku yang sepi.
Aku selalu memikirkanmu dan aku selalu memimpikanmu.
Aku disini tanpamu tapi kamu tetap bersamaku dalam mimpi-mimpi.
Kini aku membisu, terdiam, dan terpaku. Sendiri menatap jendela kaca dan lalu lalang kendaraan yang terlihat dibalik kedai kopi ini.








Daftarkan email anda untuk update berita terbaru:

0 Response to "Black Coffee"

Poskan Komentar