Mr. Bakpao

Kisah ini dimulai saat sekolahku
kedatangan murid baru. Ketika
itu tepat pukul 07.00 dering bel tanda masuk
nyaring terdengar. Seorang
laki-laki tidak begitu tinggi berbadan gemuk
dengan pipi yang menggembung
sambil memegang sebuah kotak makan besar
dan sebuah bakpao berdiri didepan
kelas. Ibu Fariza guru bahasa indonesia sekaligus wali kelas kami
tersenyum kepadanya "perkenalkan
nama kamu"
"Hai" katanya lalu menelan bakpao itu sekali
telan.
"Hahahaha" serentak kami semua tertawa
melihatnya.
"hahaha dasar anak bakpao" salah satu dari kami
bernama Roby menyeletuk
sehingga kami semakin tertawa. "pesan bakpao
dong, 5 ya dibungkus" kataku
dan semua anak-anak tertawa semakin menjadi-
jadi.
"Sudah-sudah diam, didalam kelas murid dilarang
untuk makan, jadi kamu
simpan bakpao kamu dulu, sekarang perkenalkan
diri kamu?" Kata Bu Fariza
"Maaf" wajahnya memerah "perkenalkan namaku
Dendy Irawan, kalian panggil
saja Dendy". "Baik, Dendy silahkan duduk
ditempat yang kosong"
Dia melihat-lihat mencari bangku yang kosong
dan pandangannya ada dikursi
pojok paling belakang sebelah kanan, yaitu
disampingku. Dia menghampiriku.
Semua mata tertuju kepadanya, juga ada sebuah
tawa menggelikan dari Roby "boleh
aku duduk disini?" tanyanya. Aku diam saja.
"Cie cie cie" goda Rika
"Suit suit cie Tania ehem" goda Roby dan semua
anak menertawakanku. Sial
aku sama sekali tak mau meliriknya apalagi
melihatnya. Laki-laki gendut
dengan pipi seperti bakpao sekarang duduk
disampingku. Ketika pelajaran
berlangsung tak henti-hentinya dia memakan
bakpao secara diam-diam, aku tak
peduli dengannya dan sengaja aku diamkan.
"nama kamu Tania kan?" tiba-tiba dia bicara.
"ya" jawabku cuek.
Sebulan lebih Dendy siswa baru itu duduk
disampingku. Tentu saja,
teman-teman meledekku dan bilang aku
berpacaran dengannya. Aku dan Dendy
merupakan bahan lelucon yang sangat lucu bagi
mereka, tapi bagiku tidak
sama sekali. Aku muak dengan semua
tingkahnya, membawa kotak makan yang
besar itu kemana-mana, memakan bakpao
secara diam-diam ketika pelajaran,
menyendiri ketika yang lain asik mengobrol.
Seakan-akan didunia ini yang
hidup hanya dia dan bakpaonya, seolah-olah
bakpao adalah temannya bahkan
mungkin bakpao adalah pacarnya.
Aku sering bingung dengan sikapnya, ketika itu
aku berdiam diri diatas
kasurku sambil melihat hujan turun dari balik
jendela entah kenapa aku
memikirkan Dendy si pipi bakpao. Banyak
pertanyaan-pertanyaan yang ada
diotakku. Kenapa dia begitu cinta dengan
bakpao? Kenapa dia tidak
memperhatikan tubuhnya yang semakin
membengkak? kalau aku jadi dia aku
pasti sudah ikut lomba lari maraton biar cepat
kurus. Aku jadi teringat
waktu itu ketika pelajaran olahraga. Ketika itu
Pak Hadi guru olahraga
menyuruh kami untuk lari 5 putaran dilapangan
basket. Tiap berlari aku
melihat Roby dan ketiga temannya Seno, Angga
dan Rika mengerjai Dendy. Aku
pun kadang tak bisa menahan tawa melihatnya.
Apalagi ketika Roby memasukan
sebuah bakpao kedalam baju Dendy, dengan
kegelian Dendy mengambil bakpao
itu dari balik bajunya dan langsung memakan
bakpao itu teman-teman
menetawakannya dan aku? aku begitu bingung
melihatnya, apa Dendy tidak malu
ditertawakan seperti itu. Aku tahu semua anak-
anak tidak menyukai Dendy da n
menganggap ia cowok aneh. Tapi apakah Dendy
tahu bahwa dirinya itu aneh? Seperti
biasa aku masuk kedalam kelas dan mendapati
Dendy duduk dibangkunya, dan
seperti biasa aku melihat kotak makan besar itu
berada dimeja. Aku duduk
disampingnya sambil membuka tas mengambil
buku novel yang aku suka dan kami
sama sekali tidak berkata sepatah katapun.
Memang duduk kami begitu dekat,
tapi kita sama sekali tak pernah bicara. "aku
bingung dengan sikapnya, dia
cowok aneh dia seperti anak autis" kataku lalu
meneguk es teh dikantin.
Okta yang mendengarku nerocos tentang Dendy
saking fokusnya mie
dimangkuknya sampai dingin tidak disentuh sama
sekali.
"kelihatan banget" kata Okta wajahnya serius
sekali.
"apanya yang kelihatan?" "dari awal aku juga
udah ngerasa gitu, dia cowok
autis."
Mendengar itu aku jadi sedikit gelisah, aku takut
dengan orang aneh seperti
itu bisa-bisa dia ternyata psikopat.
"maksud kamu? jangan asal deh"
"serius, liat aja deh kemana-mana bawa kotak
makanan masih mending kecil
hla itu kotak makanan ama badannya nggak bisa
dibedain isinya cuma bakpao
lagi" Okta lalu memakan mienya "lihat deh badan
sama pipinya mirip bakpao"
tambahnya padahal mulutnya masih berisi
banyak mie "hahaha" itu membuatku
tertawa.

***


Hari itu memang berjalan seperti
biasa, aku melihat dia duduk
dibangkunya ada kotak makan besar dimejanya
dan dia duduk sambil memakan
bakpao.
Aku duduk dan membuka tas mengeluarkan
sebuah majalah aku membukanya lalu
menutupi mukaku dengan majalah itu.
"sering memakan bakpao terlalu banyak dapat
menyebabkan obesitas" Aku
membaca majalah itu begitu keras, padahal isi
dari majalah itu sama sekali
tidak seperti apa yang aku baca, ya aku memang
sengaja melakukannya. Ketika
dia mendengar itu, dia sedikit menoleh kepadaku.
"OBESITAS ADALAH PENYAKIT BERBAHAYA
DAN MEMATIKAN" lanjutku semakin keras.
Mungkin
karena tidak tahan dengan ucapanku, dia pun
keluar kelas.
Aku dan Okta berusaha mencari tahu siapa
Dendy sebenarnya. Itu kan bukan
urusanku? tapi entah kenapa aku begitu
penasaran dengannya. Apa yang
membuatnya begitu mencintai suatu makanan
seperti bakpao? "kita harus
ngikutin dia sampai rumahnya" kata Okta
"serius?" aku sedikit tidak percaya.
"iya, nanti sepulang sekolah deh kita ikutin dia"
Setelah pulang sekolah aku dan Okta cepat-
cepat mengikuti Dendy yang keluar
gerbang sekolah dan menaiki sebuah angkot.
Aku dan Okta menaiki angkot lain
yang berjurusan sama berada dibelakangnya.
"kira-kira dia mau turun kemana
ya" Okta begitu penasaran.
"eh eh dia turun tuh" kataku
"bentar sabar" Setelah dia turun dan memasuki
sebuah gang kami pun juga
turun "oh dia tinggal didaerah sini"
Dia kadang melihat kebelakang, mungkin berasa
diikutin, kami pun sangat
berhati-hati. Dendy lalu masuk kesebuah rumah.
"Oh jadi ini rumahnya" kataku. "ya udah mending
kita pulang aja" ajak Okta
Aku dan Okta akhirnya pulang, aku belum
menemukan informasi apa-apa tentang
Dendy, hanya sebuah rumah. Aku tidak bisa
menyimpulkan apa-apa.


Keesokan harinya seperti hari-hari biasa, ya aku
melihatnya dibangku
memakan sebuah bakpao dan kotak makan besar
itu ada dimeja Aku duduk dan
tiba-tiba dia berbicara "sudah puas mengikutiku
kemarin?"
JLEB! rasanya kaget mendengarnya.
"ka-kamu bicara sama siapa?" aku sedikit gugup.
"ya kamulah, siapa lagi"
"maksudnya apa ya?"
"nggak usah ikut campur privasi orang deh kamu"
Aku semakin gugup mendengar
dia bicara seperti itu, tapi aku mencoba tetap
tenang.
"cowok aneh, emang kamu nggak sadar kalau
kamu tuh aneh. Tiap harinya makan
bakpao diam-diam pas pelajaran bawa kotak
makan yang gedenya kayak perut
kamu" kataku sambil mengangkat kotak
makannya. "lihat isinya cuma bakpao"
aku membuka kotak makan itu.
"bukan urusan kamu" katanya ingin merebut
kotak makan itu. Anak-anak
dikelas melihat kami bertengkar dan ada salah
dari mereka si Roby yang
cekikikan melihat kami. Aku dan Dendy berebut
kotak makan itu "lepaskan" Aku
lepas dan kotak makan itu jatuh, seketika
bakpao-bakpao didalamnya
berceceran dilantai. "oops sorry" kataku.
Semua anak-anak langsung tertawa, Dendy
melihatku wajahnya memerah, kilatan
amarah dari mata sipitnya begitu tajam. Dia lalu
keluar kelas. Sampai
pelajaran jam ke-5 dia tidak masuk kelas, aku
tidak tahu dia pergi kemana?




***




Ketika itu hari Selasa, suasana pagi ketika
aku masuk kedalam kelas
terlihat berbeda. Tidak ada seorang laki-laki
bertubuh gendut dengan pipi
bakpaonya duduk dibangku sebelahku, tidak ada
kotak makan besar yang berada
dimeja, tidak ada sebuah bakpao yang dimakan
hingga habis tak tersisa. Aku
duduk seperti biasa, tapi ada yang tidak biasa, ya
Dendy tidak masuk
sekolah hari ini.
"si Dendy kemana ya" tanya Okta.
Aku hanya diam, yang ada dipikiranku adalah apa
gara-gara kemarin dia tidak
masuk.
"udah deh jangan terlalu dipikirin" kata Okta
menghiburku. Tapi, aku merasa
bingung disatu sisi aku senang karena aku
terhindar dari cowok aneh seperti
Dendy, tapi disisi lain aku merasa bersalah gara-
gara aku dia seperti ini.
Ketika pulang sekolah aku masih memikirkan
kejadian kemarin ketika
kata-kata itu keluar dari mulutku
"cowok aneh" ya aku panggil dia aneh didepan
teman-teman sejahat itukah
aku?
Dipinggir jalan ada yang jualan bakpao tak tahu
kenapa aku berbelok dan
memesan bakpao rasa coklat. "satu bakpao rasa
coklat" kata penjual itu
dengan tersenyum memberiku sebuah bakpao
hangat. "terimakasih" kataku dan
membayar bakpaonya.
Aku memakan bakpao itu dan rasanya begitu
lezat, aku mencoba menelannya
sekaligus seperti yang biasa Dendy lakukan
"uhuk" aku tersedak, tapi aku
senang, yah ini menyenangkan "hahaha" aku
tertawa sendiri. Siang itu, aku
lalu pergi kerumah Okta. Aku mengetuk pintu
adiknya Okta yang membuka pintu
“kak Tania cari kak Okta ya?” “iya, kak Okta
mana?” “ada dibelakang, lagi
nangis” aku sedikit kaget mendengarnya, aku pun
langsung masuk rumah dan
ada Okta yang menangis dihalaman belakang
“kamu kenapa?” tanyaku. “kucingnya
meninggal” kata Lusi. “hiks, padahal aku sudah
merawatnya baik-baik” kata
Okta disela tangisnya sambil menabur bunga
diatas kuburan kecil yang
ternyata itu kuburan kucing. Aku tahu Okta suka
memelihara kucing, banyak
kucing dirumahnya dari macam kucing Persia
bahkan kucing kampung pun
dipelihara, tapi aku tak pernah mengira sampai
begini dia menyukai kucing.




***





Seperti biasa aku memikirkan kejadian-
kejadian yang sudah terjadi,
diatas kasur yang empuk aku nyalakan mp3
diiringi lagu-lagu dari Mocca.
Pikiranku tertuju pada Okta. Kalau dipikir-pikir
Okta itu sama seperti
Dendy tapi bedanya Dendy cinta bakpao
sedangkan Okta cinta kucing. Mereka
berdua sama-sama aneh. Dan yang paling
anehnya lagi adalah mereka nggak
sadar kalau mereka tuh aneh.




***

Pagi hari aku
bingung sekali mencari novel
yang baru aku beli kemarin, ya aku memang suka
mengkoleksi novel. “ma,
novel yang baru aku beli kemarin dimana?” “kok
kamu Tanya mama, itukan
novel kamu ya kamu dong yang tahu tempatnya
dimana” Aku semakin sebal
dengan jawaban mama, setiap aku tanya tentang
novel dia selalu
menanggapinya seperti itu. Aku pun berangkat
sekolah dengan pikiran yang
kacau, masih kepikiran terus dimana novel itu.
Ketika jam istirahat aku mengajak Okta pergi
kekantin tapi ia tidak mau.
“emang kamu nggak laper?” tanyaku “nggak kok”
wajahnya terlihat murung. “masih
kepikiran sama kucing kamu yang meninggal itu
ya?” dia menganggukan
kepalanya. “udahlah jangan terlalu dipikirin itu
kan cuma kucing” “apa kamu
bilang cuma kucing? kamu nggak ngerasain
gimana rasanya kehilangan sesuatu
yang kamu sayangi makanya kamu bisa ngomong
gitu” “duhh, kok kamu jadi
marah sih” dia diam saja. “jujur ya, kamu sama
Dendy itu sama, sama-sama
aneh” kataku “Tan, emang kamu nggak nggak
sadar kalau kamu sendiri tuh
aneh, lihat diri kamu yang tergila-gila sama novel,
lihat koleksi novel
kamu dan lihat coba kalau kamu kehilangan
novel pasti ngamuk-ngamuk apa itu
nggak aneh?” Aku tak peduli dengan ucapannya,
aku berlalu dari hadapannya.

***

Aku dan Okta marahan, hingga 3 harian kami
tidak saling menyapa satu
sama lain maupun mengobrol seperti biasa.
Waktu itu ketika jam istirahat
aku lihat ada Dendy dan wanita setengah baya
keluar dari ruang kepala
sekolah. Aku tidak tahu wanita itu siapa tapi aku
berpikir mungkin itu
mamanya Dendy.

***

Keesokan harinya ketika
aku berangkat sekolah menelusuri
koridor aku mendengar pembicaraan para gadis
yang berbincang-bincang duduk
dikursi koridor. Aku dengar mereka
membicarakan Dendy yang akan pindah
sekolah. Aku langsung mempercepat langkahku
menuju kelas dan aku
melihatnya, laki-laki itu duduk tenang
dibangkunya dan kebiasaan itu tak
berubah masih ada kotak makan besar berisi
bakpao dimejanya. Aku sedikit
lega melihatnya berangkat sekolah hari ini.
Dikelas itu juga aku melihat
Okta yang sedang duduk dibangkunya, dia sama
sekali tidak melihatku bahkan
mengajakku mengobrol seperti biasa, dia benar-
benar marah. Sekarang aku
sudah kehilangan semuanya, kehilangan
sahabatku Okta karena aku
menganggapnya aneh, kehilangan Dendy yang
akan pindah sekolah karena
gara-gara aku yang juga menganggapnya aneh.
Apa aku juga kehilangan Dendy
si Mr. Bakpao itu? Iya jujur aku merasa
kehilangan Dendy, karena aku mereka
berdua pergi menjauh. Aku ingin sekali meminta
maaf, tapi aku terlalu
gengsi untuk mengatakannya. Kalau dipikir-pikir
kata-kata Okta ada benarnya
juga, aku dengan dia dan Dendy tidak ada
bedanya kita semua sama-sama aneh.
Apa cinta terhadap sesuatu yang berlebihan itu
aneh ?

***

Ketika itu hari
Kamis ada pelajaran olahraga, seperti biasa kami
yang bersekolah disalah
satu SMA diJakarta ini harus lari 5 putaran
dilapangan basket untuk
pemanasan. Roby, Angga, Seno dan Rika
menertawakanku karena ketika aku
mengajak Okta bicara tapi aku malah dicuekin.
Aku lihat Dendy yang duduk
karena kelelahan berlari dan aku lihat Okta yang
tak menanggapiku malah
mengobrol dengan teman lain. Roby, Angga,
Seno dan Rika seperti biasa
selalu mengganggu “ciee yang lagi marahan”
sindir Rika. Aku tidak suka
dengan kata-kata Rika barusan, dia pikir itu lucu
apa?. Mereka pun
menggangguku, aku sempat ingin menangis
karena diledek terus tapi aku
tahan, mereka tak tahu rasanya kehilangan
sesuatu hal yang kita sayangi,
persis seperti apa yang diucapkan Okta waktu itu
kepadaku, dan sekarang
posisiku sama seperti Okta, karena aku
kehilangan seorang sahabat yang
begitu aku sayangi. Aku cuma bisa terdiam
tertunduk menahan air mata ini
jatuh. “cukup” aku mendongakkan kepala
mendengar suara itu. Aku lihat
Dendy. “kalian nggak ada kerjaan gangguin orang
terus?” “mau jadi jagoan”
Roby mendekati Dendy. “aku nggak suka main
dengan cara kekerasan” “bilang
aja kalau takut” “takut dengan orang kayak kamu
hahaha itu lucu” Roby
langsung melemparkan pukulan kearah Dendy
dengan sigap Dendy menahan tangan
Roby dengan satu tangan kanannya, lalu
mendorong Roby hingga tersungkur
dilantai. “dasar monster” triak Rika. Angga dan
Seno menolong Roby dan
membawanya menuju UKS. Okta yang melihat
kejadian itu langsung
menghampiriku “ada apa?” tanyanya. Dendy
langsung berpaling “tunggu”
kataku. Dia menoleh “maaf” akhirnya kata itu
muncul juga setelah lama aku
pendam. “maaf untuk semuanya, maafin aku
yang berpikiran buruk padamu dan
Okta, aku menyesal” air mata yang aku tahan tak
terbendung lagi. Dia
tersenyum, senyuman yang pertama aku lihat
dari Dendy. “it’s okay Tan,
jangan sedih, aku tidak tahan melihat wanita
menangis” katanya. “iya, Tania
aku Cuma kesel sama kamu tapi sebenarnya aku
nggak marah sama kamu” Okta
memelukku. Pelukan dari seorang sahabat yang
begitu hangat. Ketika kejadian
itu aku dan Dendy jadi sedikit akrab, kami kadang
mengobrol walau sedikit
kaku. Disela-sela obrolan kami kadang dia bisa
melucu sehingga membuatku
tertawa, aku tak pernah mengira ia seasyik ini.
Dibalik pipi bakpaonya
terselip sesuatu yang tak bisa aku ungkapkan
dengan kata-kata. “jangan-jangan
kamu suka sama dia” “ih ngaco deh kamu”
kataku sambil membaca novel. “udah
ngaku aja, aku harap kamu bisa ungkapin
perasaan kamu ke Dendy” Kata Okta. Kata-kata
Okta barusan membuatku tak bisa tidur
semalaman, aku bingung sama apa yang
aku rasain, apa aku benar-benar cinta sama
Dendy?



Aku masih
ingat Dendy mengajakku dan
Okta kerumahnya untuk merayakan tahun baru
imlek. Pukul 7 malam aku dan
Okta berada dirumahnya, dekorasi rumah Dendy
begitu kental dengan budaya
China, penuh dengan warna merah ternyata dia
berdarah Tionghoa. Wanita
setengah baya yang pernah aku lihat bersama
Dendy kini berada dihadapanku
dan Okta menyambut kami dengan hangat
ternyata dugaanku benar wanita itu
memang mamanya Dendy. Kami berbincang
akrab sambil memakan kue kranjang dan
tak lupa aku memberikan sebuah kotak besar
berwarna putih kepada Dendy, itu
sebagai angpaonya dia. “wah, banyak banget
bakpaonya” katanya kaget melihat
isi kotak besar putih itu adalah bakpao. Kami
berempat, aku, Okta, Dendy
dan mamanya keluar rumah untuk melihat
karnaval barongsai malam itu.
Barongsai itu menari-nari, melonjak-lonjak
beriringan dengan musik,
gerakannya begitu lincah Okta sampai kegirangan
melihatnya. Dendy memberiku
sebuah amplop berwarna merah “Tan, coba deh
kamu masukin amplop itu kemulut
barangsai itu” Aku coba melakukannya dan
rasanya senang sekali. Malam ini
malam yang nggak akan pernah aku lupa.
Gerakan barangosai memakan amplop
itu berlangsung sekitar separuh dari tarian.
Setelah itu kami berkumpul
dilapangan untuk pesta kembang api. Banyak
orang-orang berkumpul disini,
anak-anak muda asyik bercanda menghabiskan
waktu dengan kekasihnya. Aku dan
mamanya Dendy duduk ditikar dipinggir lapangan
sambil menikmati es buah. “Dendy
jarang sekali membawa temannya kerumah, tapi
kali ini berbeda. Dia sekarang
sudah berubah” kata mama Dendy kepadaku
sambil tersenyum melihat langit
penuh dengan kembang api yang dinyalakan
Dendy dan Okta ditengah lapangan.
Mereka terlihat seru sekali. “berubah?” kataku
sedikit bingung. “iya, dia
berubah. Sejak papanya meninggal ketika ia
berumur 10 tahun dia jadi
pendiam dan tidak suka bergaul yang ia sukai
hanya memakan bakpao, lucu
sekali tapi itulah anakku” “maaf tante, kalau
boleh tahu kenapa Dendy
begitu menyukai bakpao” “bakpao adalah
makanan kesukaan papanya, ia persis
seperti Dendy” Aku lihat matanya berkaca-kaca.
Malam itu juga rasa
penasaranku terjawab sudah.

***

“ajak dia
nonton malam minggu besok” kata
Okta pas dikantin. “ngomong apa sih kamu?” “ya
ngomongin kamu sama
Dendylah, udah deh besok malam minggu kamu
ajak dia nonton” kata Okta
semangat. Ketika dering bel masuk kelas
berbunyi, aku dan Okta cepat-cepat
masuk kedalam kelas ada pelajaran matematika
gurunya killer banget. “Tan,
Tania” Okta memanggilku pelan ketika pelajaran
berlangsung. Dia
mengedip-ngedipkan matanya seperti memberi
kode. Aku tahu maksudnya mungkin
tentang rencananya dia yang nyuruh aku ngajakin
Dendy buat nonton. “Den”
kataku pelan. Dia menoleh mataku dan mata
sipitnya dia bertemu “kamu suka
nonton film?” “suka emangnya kenapa?” “ada
film bagus” “oh ya, film apa?”
dia sepertinya tertarik. “mau tahu filmnya apa?
Malam minggu kita nonton
ya?” “aku sama kamu?” wajahnya terlihat tidak
yakin. “ya iyalah” “berdua” “hn”
aku sedikit kesal. “BOLEH” katanya keras sekali,
sehingga guru killer yang
sedang nulis dipapan tulis menoleh kearah kami.
“kalau kalian mau ngobrol,
silahkan keluar’ katanya tegas. Aku dan Dendy
hanya menahan tawa.


Malam minggu pun tiba aku dan Dendy
menikmati film horror, film kesukaanku.
Setelah selesai menonton film kami berjalan
menyusuri jalanan kota Jakarta
yang ramai. Ada anak-anak bermain sepeda,
penjual-penjual kaki lima
dipinggir jalan yang sibuk melayani pelanggan,
toko-toko yang memajang
barang-barangnya begitu rapi, dan para anak-
anak muda sibuk berpacaran. Aku
dan Dendy terlihat seperti sepasang kekasih
mungkin? Duhh, ngarep. Kami
berdua mampir untuk membeli bakpao dipinggir
jalan “coba deh Tan, telan
sekaligus” Dendy mempraktekkannya didepanku.
Aku pun mencobanya, dan aku
pun tersedak karena ukuran bakpaonya yang
begitu besar. Dendy sampai
tertawa melihatku, tawa yang begitu lepas.
Malam semakin larut, Dendy mengantarku pulang
sampai didepan rumah. “Tan,
makasih ya buat malam ini, seru banget” aku
cuma tersenyum malu. “mmm” dia
sedikit berpikir. “Tan, 3 hari lagi aku akan pindah
keBali” dia terlihat
serius. “mamaku harus meneruskan bisnis
restaurant papa yang udah lama
ditinggal sejak ia meninggal” Aku sudah tidak
tahu mau bicara apa. “jadi,
kamu akan pindah” aku terdiam sebentar,
rasanya aku ingin memeluknya tapi … “aku
kira kamu pindah gara-gara aku” “hah, gara-gara
kamu kok bisa?” “ya aku kan
dulu…” aku masih bingung mau bicara apa.
“menganggapku cowok aneh?”
tegasnya. “mungkin” kataku. “hahaha kamu lucu
banget sih Tan, jelas
nggaklah, kamu itu baik Tan. Kamu adalah teman terbaik aku yang pernah
aku temuin” Teman yah dia memanggilku teman.
“yah, aku ngerti itu aku masuk
dulu yah” “tunggu” katanya. Aku menoleh, aku
harap dia memintaku untuk
memeluknya. “malam ini malam yang nggak
akan pernah aku lupa” Katanya
sambil memperlihatkan senyumnya dan berpaling
dariku melangkah pergi hingga
ia tak terlihat dari gelapnya jalan tanpa
memelukku.

***

Ketika disekolah
Okta terus saja memaksaku untuk mengatakan
perasaanku terhadap Dendy, tapi
aku begitu takut dan gengsi. Apalagi kalau dia
menolakku. “kamu nggak mau
kan nanti nyesel? Sebelum dia pergi kamu harus
ngungkapin perasaan kamu”
Okta terus mendesakku. Ketika dikelas aku
hanya bisa diam, aku senderkan
kepalaku dimeja, rasanya kepalaku begitu berat
sekali.

***

Detik-detik yang
aku takuti datang juga. Ketika itu aku melihat
Dendy dan mamanya keluar
dari ruang kepala sekolah, setelah itu mereka
masuk kedalam kelas. Dendy
berpamit dan mengucapkan kata perpisahan
didepan kelas. Persis seperti
ketika ia pertama kali masuk kekelas kami, tapi
bedanya kali ini
ditangannya tidak ada bakpao maupun kotak
makan yang besar. “selamat
tinggal teman-teman” kata-kata itu terucap dari
mulutnya. Membuat mataku
berkaca-kaca. Dia lalu melihatku “bangku itu
sangat berkesan bagiku”
katanya menunjuk bangku yang ada disampingku.
Aku melihat senyum itu lagi,
senyuman yang begitu manis kala itu. Aku hanya
bisa menatapnya melangkah
pergi keluar kelas. Ingin rasanya aku teriak
“TIDAK, JANGAN PERGI!” tapi
mulutku rasanya berat untuk bicara. “kenapa
kamu diam aja?” Okta
menghampiriku. Aku hanya menggelengkan
kepalaku, aku bingung harus apa?
“sudahlah, tidak apa-apa” Okta memelukku.
Bendungan air mata itu pecah
seketika.

***

Ketika pulang sekolah aku mampir
kesebuah toko bakpao, aku
duduk dan memesan sebuah bakpao rasa coklat.
Aku lihat bakpao itu. Aku
teringat Dendy. Aku yang terlalu naïf, aku yang
terlalu gengsi untuk
mengungkapkan perasaanku, hingga seseorang
yang aku cinta pergi. Bodoh?
Jelas iya aku memang bodoh. Menyesal? Untuk
apa? Semuanya sudah terjadi. Dendy
entah sekarang kamu ada dimana, jika kamu
membaca cerita ini aku hanya
ingin mengucapkan kata-kata yang sulit aku ucap
“Mr. Bakpao I Love You”




















Created by Rina
Alumni 2014/AP
Follow Me : @Rinzzle666
Pin: 53A1A472


Daftarkan email anda untuk update berita terbaru:

0 Response to "Mr. Bakpao"

Poskan Komentar