Bintang Untuk Anak Jalanan

Tepat pukul 04.00
terdengar suara gemuruh
berisiknya kereta api.
"bil, bangun" bisik itu terdengar di telingaku. Aku
dan Jefri beranjak dari
tempat tidur, ku basuh mukaku dengan air, "ayo,
jangan sampai telat"
katanya.
Kami berdua melewati lorong, kaki kami yang
tanpa alas terasa dingin ketika
menapak di rel kereta. Namaku Abil, aku tinggal
di pinggir kota Jakarta.
Aku dan Jefri temanku, memang terlahir sebagai
anak jalanan orang tua kami,
lah apa kita punya orang tua?
Aku dan Jefri seperti biasa pergi ke pasar untuk
mengamen, dipasar sudah
ramai sekali. Gitar kecil ini yang jadi temanku
bernyanyi.
"engkau yang sedang patah hati, menangislah
dan jangan ragu ungkapkan. . ."
suara nyanyian itu keluar dari mulutku. Tak
seberapa pendapatannya tapi itu
cukup untuk makan itu pun kalau tidak dipalak
oleh Deni CS. Deni yang lebih
tua dariku. Usiaku kira-kira 14 tahun aku tidak
tahu pasti usiaku berapa,
sedangkan Deni mungkin 18 tahun lebih, bertubuh
besar dan ditakuti semua
anak-anak jalanan disini. Deni selalu mengambil
uang hasil kerja keras
orang lain, termasuk aku.
Ketika matahari mulai terik, panasnya membakar
kulit "bil, nih makan" Jefri
memberiku sebungkus nasi. Rasanya aku malas
sekali memakan nasi ini.
"udahlah makan"
"Jef, lihat deh"
"kompetisi menyanyi?"
Aku mengangguk semangat dan tersenyum
ketika Jefri membaca brosur yang
kubawa.
"terus?"
"aku mau ikut"
"apa? Hahaha!!" Jefri tertawa keras sekali.
"kok ketawa?"
"ngapain sih bil ikut acara seperti ini, biaya
daftarnya saja mahal kalau
memang sih sukur tapi kalau kalah cuma
ngabisin duit"
"tapi tidak ada salahnya kan kalau dicoba"
"hahaha Abil Abil, jangan mimpi. Kita tuh hanya
anak jalanan, ya hidup kita
dijalanan soal ikut kompetisi bernyanyi seperti ini
mana mungkin? Udahlah
makan yang banyak, nanti keburu ada Deni kesini
diambil makananmu” Aku dan
Jefri pulang kerumah sekitar pukul 21.00 malam.
Ketika dijalan aku menatap
ke atas langit "malam ini banyak bintang ya"
"iya, indah banget" sahut Jefri.
"bisa tidak ya aku jadi salah satu dari ribuan
bintang itu"
"hahaha" lagi-lagi Jefri tertawa.
"kamu itu lucu banget, bisa sih bisa ntar malam
juga bisa dalam mimpi
maksudnya"
ôôô
"woe, molor terus" seseorang menepuk pipiku.
Aku membuka mata, sinar matahari pagi
membuat silau mataku.
"gimana semalam sudah jadi bintang?" kata Jefri.
Aku tersenyum
mendengarnya.Seperti biasa kita pergi
mengamen.
"udah seminggu kalian berdua gak setor" kata
Deni memasang muka
garangnya.Kami pun merelakan uang kami
diambilnya.
Untungnya Aku dan Jefri menyembunyikan uang
lainnya di gerbong kereta.
Setelah Deni pergi kami pun cepat-cepat lari ke
gerbong.
"untunglah gak ada yang nemu" ucap Jefri.
Hari sudah senja. Aku dan Jefri melihat langit
yang oranye di sore hari.
Aku tatap langit itu dengan tatapan kosong.
Pikiranku entah kemana "bil,
kalau kamu mau ikut kompetisi itu gak apa-apa
aku dukung kamu" kata-kata
itu membuatku tersadar dari lamunanku.
"yang bener?"
"iya" katanya lalu menatap langit juga.
"menurutku tidak ada salahnya kalau kamu coba.
Soal omonganku yang hanya
mimpi atau apa itu hanya pikiran lalu, aku cuma
gak mau kamu kecewa jika
misalnya gagal" Kompetisi itu selalu ada
dipikiranku. Dalam hati aku selalu
bertanya sampai kapan aku menjadi anak
jalanan? Apakah aku akan
berkeluarga? Oh semua pertanyaan ini mungkin
tidak pernah ada dipikiran
Jefri. Hidup sebagai anak jalanan memang tak
punya masa depan, lalu apa
gunanya aku menyimpan semua pertanyaan itu.
Aku selalu bermimpi bisa
berubah, bukan seperti spiderman ataupun power
ranger. Tapi, berubah
menjadi anak normal lainnya yang hidup dirumah,
sekolah, orang tua. Ahh,
bicara apa aku "jangan mimpi" kata-kata Jefri
terngiang dikepalaku.
Hujan mengguyur kota Jakarta, rumah yang Aku
dan Jefri tempati bocor
dimana-mana, dinding yang terbuat dari terpal
dan kardus basah. Aku dan
Jefri lari dan berteduh di pertokoan. Dinginnya
malam ini menusuk tulangku.
Aku dan Jefri duduk berdekatan, kami berdua
sama-sama menggigil kedinginan
"mau sampai kapan kita begini?" tanyaku.
"entahlah" jawabnya.
Kadang aku berpikir, semua anak pasti punya
orang tua. Sedangkan anak-anak
jalanan seperti Aku dan Jefri apakah punya?
Mungkin punya tapi entah
kemana. Jefri selalu memarahiku ketika aku
selalu bertanya "apakah kita
punya orang tua?" "jadi kita butuh uang 100 ribu
untuk ikut lomba menyanyi?"
"bukan kita, tapi aku Jef"
"urusan kamu urusan aku juga"
"tapi kan" belum sempat aku menyelesaikan
omonganku dia melompat dari
gerbang kereta meninggalkanku.
Waktu terus berjalan, pagi menjelang siang, siang
menjelang malam. Dan
hari-hari itu kulalui dengan mengamen.
"bil, buat kamu" Jefri memberiku uang
tabungannya.
"hloh, ini kan"
"udah ambil saja"
"gak mau"
"ayolah ambil, ini memang gak cukup buat daftar
tapi lumayan kan buat
tambah-tambah"
"tapi Jef"
"kamu ambil atau aku marah"
Aku tersenyum melihatnya. "terimakasih" kataku.
Dia tak menjawab, lalu menarik selimut dan tidur.
Aku benar-benar beruntung
bisa mempunyai sahabat seperti Jefri.
Terimakasih Ya Allah kau telah
memberiku sahabat sebaik dia. Walaupun dia
cuek, dingin, dan angkuh tapi
hatinya seperti malaikat.
"cepat kamu daftar sana" kata Jefri setelah
sampai ditempat pendaftaran
menyanyi.
"Jef, terimakasih ya, ini berkat kamu"
"sudah sana cepat" Aku tersenyum melihatnya.
"kalian ngapain ada disini" suara itu
mengagetkanku dan Jefri.
"DEN!!!" kataku dan Jefri bersamaan. Kami tak
percaya tiba-tiba Deni ada
disini. Jefri melirik padaku dan aku tahu
maksudnya "LARI!!!" teriaknya.
Aku dan Jefri berlari sekuat tenaga.
"heh, tunggu" Deni dan teman-temannya
mengejar kami.
"bil, jangan sampai Deni mengambil uang kita"
kata Jefri sambil terus
berlari, keringat membasahi tubuh kami, siang ini
begitu panas. Kami
berlari melewati gerbong kereta. "heh, jangan lari
kamu ya" Deni berhasil
menangkap Jefri, ia mengangkat kerah baju Jefri
"berani ya kalian kabur
dari kita" kata Deni.
"Den, habisin saja anak ini" kata Seno.
"iya Den, habisin" yang lainnya ikut mendukung,
ada enam orang disitu.
"bil, lari !" teriak Jefri yang melihatku berdiri,
terpaku tak bisa apa-apa
hanya melihatnya memberontak ketika Deni
menangkapnya.
"urus ini bocah, biar aku yang mengejar
temannya" Deni melempar Jefri
ketanah, Jefri merasa kesakitan dan teman-
teman Deni mulai menyerang Jefri.
"mana duit kamu?" kata Seno.
"aku tidak punya duit" jawab Jefri.
"omong kosong" mereka lalu memukuli Jefri
ramai-ramai.
Aku berlari, berlari dan terus berlari. Deni tetap
mengejarku. Aku lelah,
rasanya kakiku lemas sekali dan kepalaku juga
pusing. Hingga aku terjatuh
didekat rel, aku renggangkan kakiku, rasanya
lemas sekali aku sudah tidak
punya tenaga lagi tapi Deni mengejarku.
Bagaimana dengan uang ini, uang
untuk mendaftar kompetisi menyanyi. Aku harus
menyelamatkan uang ini.
"ABIL AWAS!!" seseorang teriak. Aku menoleh
dan tidak sadarkan diri. Aku
melihat semua ruangan menjadi putih, dan disini
tidak ada siapa-siapa. Aku
berlari mencari-cari seseorang tapi tidak ada.
Aku mulai gugup dan bingung,
ini dimana sebenarnya?
Jefri, dimana dia? Dimana sahabatku? Aku
mencarinya kesana kemari. Aku
mendobrak semua pintu diruangan itu. Terlalu
banyak pintu dan ketika aku
dobrak tidak ada siapa-siapa. Tapi, aku tidak
menyerah aku terus mencoba
membuka semua pintu itu hingga akhirnya aku
melihat seseorang berdiri
disebuah kamar. Seseorang itu menoleh, "Deni"
kataku. Dia menatapku tajam,
aku coba mendekatinya tapi tiba-tiba pintu itu
tertutup lagi "Deni Deni
Deni!!!" panggilku berkali-kali sambil mengetuk
pintu itu, aku mencoba
membuka pintu itu lagi tapi tidak bisa pintu itu
terkunci dari dalam.
Tiba-tiba aku mendengar suara orang menangis.
Orang itu duduk disudut
ruangan, menutupi wajahnya dengan tangannya
"Jefri" panggilku.
Dia mendongakkan kepalanya, aku kaget melihat
wajahnya yang penuh dengan
darah yang keluar dari matanya, aku kaget dan
terjatuh kelantai. "astaga!
Abil kamu tidak apa-apa?"
Aku buka mataku, aku lihat samar-samar
seseorang yang coba membantuku untuk
bangun. Aku terjatuh dari tempat tidur.
"kenapa bisa jatuh sih?"
Dia mengangkatku ketempat tidur "Jefri" kataku
ketika mataku sudah jelas
melihatnya.
"syukurlah kamu sudah sadar" katanya
tersenyum.
"kakiku!!!" Aku terbelalak melihat keadaanku
sekarang. "Jef, kakiku kemana?
Kakiku kemana?" Aku sungguh tak percaya,
ketika aku membuka mata dan yang
aku lihat kedua kakiku hilang.
"DIMANA KAKIKU??!!" aku berteriak, memukul-
mukul tempat tidur, aku lempar
selimut. "DIMANA KAKIKU JEF??!!" aku pukul
tubuhnya, dia hanya diam. "JAWAB
JEF, DIMANA KAKIKU??!!"
"kecelakaan itu merenggut kakimu" katanya.
Aku mulai menangis, aku tak percaya dengan ini
semua. Aku coba pejamkan
mataku dan berharap bahwa semua ini mimpi
dan ketika aku buka mata kakiku
masih utuh. Tapi, ternyata tidak. Ini nyata, aku
benar-benar kehilangan
kakiku. Rasanya aku tidak ingin membuka
mataku lagi, buat apa aku membuka
mataku hanya untuk melihat kedua kakiku yang
buntung. Rasanya aku ingin
tidur untuk selama-lamanya.
"kamu yang sabar ya bil"
ôôô "siapa yang membayar biaya rumah
sakit?" tanyaku ketika Jefri
membereskan baju-bajuku. Hari ini aku sudah
boleh pulang dari rumah sakit.
"kamu tenang saja, kamu dapat kesehatan gratis
dari pemerintah"
"hari gini mana ada yang gratis"
"sudahlah, yang terpenting kamu sekarang sudah
sehat"
"buat apa aku sehat tapi tidak punya kaki" Jefri
langsung diam mendengar
itu. Dia lalu merapikan tas yang berisi baju-
bajuku. Lalu dia membungkukkan
badannya dihadapanku.
"mau apa?" kataku bingung.
"ayo pulang" katanya.
"Jef, kamu…" dia menggendongku. Dia membawa
tas ransel ditangannya, dan
sambil menggendongku. Ketika kami berjalan dan
melewati lobby rumah sakit,
semua mata tertuju pada kami. Anak kecil
seperti Jefri menggendong anak
cacat sepertiku.
"Akhirnya sampai dirumah juga" katanya
menurunkanku ditempat tidur.
"tadi kita naik taksi, uang dari mana itu" kataku
ketus.
"uang aku sendiri"
"sok banget naik taksi segala" dia
mengabaikanku dan mulai membereskan
rumah. ôôô
Aku dan Jefri berada diluar rumah. Malam ini
begitu terang, banyak bintang
dilangit.
"bintang itu mirip kamu" tiba-tiba Jefri berbicara
seperti itu.
"hmm konyol"
"kok konyol, aku serius bintang itu mirip kamu"
kata Jefri menunjuk satu
bintang "lihat bintang itu yang paling terang"
"sial"
"kamu bicara apa?"
"aku bintang yang paling terang? Kamu
bercanda? Lihat aku! Aku tidak
berguna sekarang, aku tidak bisa apa-apa. Apa
itu disebut bintang yang
paling terang?" kata-kataku sukses membuat
Jefri terdiam.
"aku tidak percaya" ia menatap langit lalu
melanjutkan kata-katanya, "aku
tidak percaya kamu bicara seperti itu, bil. Aku
kira kamu adalah orang yang
kuat, orang yang tidak mudah putus apa, orang
yang selalu bahagia dan tidak
mudah menyerah dengan apa yang kamu
inginkan. Apalagi ketika kamu ingin
ikut lomba menyanyi itu, kamu gigih ingin
mengikuti lomba itu"
"cukup! Gara-gara itu aku jadi seperti ini"
"kemana Abil sahabatku yang dulu aku kenal, ini
bukan Abil yang sebenarnya.
Abil tidak mudah putus asa seperti ini"
"Abil yang sebenarnya sudah mati" ôôô
Cahaya matahari yang menyorot dari jendela
membuat mataku silau, aku kucek
mataku. Dan aku terbangun dipagi hari dan
melihat kedua kakiku buntung. Aku
lihat seisi ruangan, tidak ada Jefri. Apa dia sudah
berangkat mengamen,
tapi kenapa dia tidak membangunkanku seperti
biasanya. Aku jatuhkan tubuhku
kelantai, kuseret tubuhku mendekati teko air, aku
tuangkan air putih
kedalam gelas lalu meminumnya. Jefri kemana
ya, aku coba keluar rumah dan
mencarinya. Aku seret tubuhku, menapaki jalan
aspal yang membuat pinggangku
terasa panas. Banyak mata memandangku iba,
tapi ada juga yang sinis bahkan
jijik melihatku. Aku tak peduli itu. Aku keluar dari
rumah sambil membawa
gitarku, gitar yang dulu selalu menemaniku
mengamen dan hari ini aku coba
untuk mengamen lagi. "engkau yang sedang
patah hati menangislah dan jangan
ragu ungkapkan . . ." Aku mainkan gitarku, bait
demi bait lagu kulantunkan
dipinggir jalan. Banyak orang yang melempar
uang padaku, entah seribu
bahkan ada lima ribu rupiah, aku senang
menerimanya.
"hahaha" tiba-tiba banyak orang
menertawakanku, ternyata Deni dan
kawan-kawannya.
"lihat ada anak buntung ngamen" kata Deni
mengejekku. Aku benar-benar maju
dibuatnya. "hahaha lihat kalinya hilang, hilang
kemana ya"
"hahaha dasar anak buntung" mereka semua
mengejekku.
"ini duit buat kita" Deni mengambil semua
uangku.
"jangan Den!"
"kenapa? Mau ambil? Ini" Deni menyodorkan
uang itu kepadaku, aku coba
mengambilnya.
"eitt, enak saja kejar kita dulu" Deni dan teman-
temannya sambil tertawa
mengejekku. Aku benar-benar malu, malu sekali.
ôôô
Malam telah larut, tapi aku belum pulang
kerumah. Aku memang sengaja tidak
pulang. Aku malu. Aku malu dengan diriku
sendiri, tidak hanya itu aku juga
malu dengan Jefri. Aku tidak bisa apa-apa, aku
hanya menyusahkan dia. Aku
kasihan dengan Jefri dia pasti lelah, dia harus
mengurus dirinya sendiri,
mengurus rumah dan itu saja sudah sulit
ditambah lagi dia harus mengurusku
yang cacat, yang tidak berguna. Lebih baik aku
pergi darinya agar tidak
menyusahkan dia lagi, itu lebih baik.
Kilatan cahaya dilangit menyambar-nyambar,
hujan disertai petir membuatku
takut. Aku berteduh didepan toko yang sudah
tutup dengan alas kardus, aku
menggigil kedinginan ditambah lagi aku belum
makan, uangku habis diambil
Deni. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Tuhan,
lindungilah aku. Maafkan aku
selama ini telah menyusahkan Jefri, maafkan aku
yang sekarang tidak
berguna. Ya Tuhan jika aku boleh meminta, aku
ingin tidur selama-lamanya.
"ABIL!!!" suara itu mengagetkanku.
"Jefri" kataku.
"ngapain kamu disini, aku mencarimu dimana-
mana kamu buat aku khawatir, ayo
pulang" dia mulai menggendongku, tapi aku
menolak dan menyingkir darinya.
Dia memandangku bingung "aku tidak mau
pulang"
"kenapa?"
"sudah tinggalkan aku sendiri"
"kenapa kamu bicara seperti itu"
"SUDAH SANA PERGI!!!" aku bentak dia. Dia
menatapku tak percaya. Lalu dia
menggendongku secara paksa.
"turunkan aku!!, turunkan aku Jef!!" teriakku
memberontak tapi dia tidak
peduli dan tetap menggendongku. Ditengah
derasnya hujan ia tidak merasa
lelah dan tetap kuat menggendongku. Aku
menangis, air mata itu keluar
sendiri dari mataku walaupun air mata ini sama
sekali tak terlihat karena
diguyur oleh derasnya hujan. Jefri, sahabatku.
Kenapa kamu rela melakukan
ini?
ôôô
Pagi hari sekitar pukul 04.00, aku lihat Jefri sibuk
beres-beres dan dia
mengambil gitarnya "aku ikut" kataku.
"tidak usah"
"kenapa tidak usah?" dia malah terdiam. "apa
karena aku cacat?"
Dia tetap saja diam "rasanya aku ingin sekali
mati. Kehidupanku sudah sulit
ditambah lagi dengan fisikku yang tidak
mempunyai kaki, buat apa aku tetap
hidup?" dia menatapku lekat-lekat lalu
mendekatkan wajahnya dengan wajahku. "jangan
bicara seperti ini lagi" Kilatan matanya serius
"aku minta kamu dirumah,
jika kamu pergi lagi jangan anggap aku
sahabatmu lagi" katanya lalu keluar
dari rumah.
Sepertinya dia benar-benar marah terhadapku.
Tapi, didalam hatiku yang
paling dalam aku kasihan dengannya, hloh
bukannya aku yang harusnya
dikasihani?
Tapi Jefri, dia pasti lelah dan aku tidak bisa
membantunya sama sekali. Aku
ingin sekali keluar dari rumah tapi ucapannya
tadi mengancamku. Aku mulai
bingung, aku tidak mau persahabatanku
dengannya hancur. Dan hari ini aku
putuskan untuk dirumah saja. "ini" Jefri
memberiku nasi bungkus setelah ia
pulang dari mengamen. Aku buka nasi bungkus
itu "habiskan ya"
"Jef" panggilku "maaf"
"maaf buat apa?"
"aku menyusahkanmu" "tidak, kamu ini bicara
apa sih?"
Aku makan nasi bungkus itu dengan lahapnya
"ini" dia menyodorkan uangnya.
"untuk apa?" kataku bingung.
"ya untuk kamulah"
"tapi ini kan uang kamu"
"untuk daftar kompetisi menyanyi" aku langsung
tersedak mendengarnya. Jefri
lalu memberiku minum.
"kamu lucu banget sih Jef, aku kan cacat mana
bisa ikut lomba itu"
"bisa tidak jangan bicara kalau kamu cacat!"
"hloh, emang benarkan aku ini cacat"
"cukup jangan bicara seperti itu!!!"
"aku ini emang cacat kan Jef"
"CUKUP ABIL!!!" dia membentakku. "ya benar
kamu memang cacat" katanya lalu
naik diatas tempat tidur. Sore hari diatas
gerbong, Jefri dan aku menikmati
langit senja.
"kenapa kamu suruh aku ikut lomba?" tanyaku.
"tidak apa-apa lupakan itu hal konyol. Aku kira
orang yang aku suruh ikut
lomba adalah orang yang dulu aku kenal tapi
sepertinya dia sudah berubah"
katanya sambil menatap langit.
"maksud kamu apa? Aku memang sudah berubah
kan? Aku memang bukan Abil yang
dulu kan?"
"tidak" dia tetap memandang langit "Abil yang
dulu aku kenal, dia gigih,
tidak mudah putus asa, pantang menyerah.
Bukan yang sekarang yang pesimis,
putus asa dalam menjalani hidupnya, selalu
mengeluh"
"kamu bisa bicara seperti itu karena kamu tidak
merasakan bagaimana jadi
aku, coba bayangkan jika kamu tidak punya kaki"
"setidaknya aku tidak akan mengeluh seperti
kamu" Dia menoleh dan menatap
mataku "kita bersahabat sejak kecil, kita bahkan
tidak tahu orang tua kita
sendiri. Ketika kita keluar dan kabur dari panti
asuhan yang mengerikan
itu, kita selalu berjuang bersama-sama. Sedih,
senang, kita sama-sama
jalani. Aku tidak hanya menganggapmu sebagai
seorang sahabat melainkan
saudara. Cuma kamu orang yang aku kenal
didunia ini, aku berjuang hidup
buat kamu. Cuma kamu satu-satunya keluargaku.
Mendengarmu bicara cacat,
tidak berguna rasanya hatiku sakit lebih sakit
dari apapun. Kalau bisa
memilih, lebih baik aku saja yang mengalami
kecelakaan itu"
Aku tersentak mendengar itu, baru kali ini aku
mendengar Jefri bicara
serius seperti ini. Dia yang cuek dan acuh tak
acuh bisa berfikiran seperti
ini. Bodoh, aku memang bodoh. Aku telah
mensia-siakan pengorbanan Jefri,
saudaraku. Yah, aku juga menganggapnya
sebagai saudaraku. ôôô
"ayo kita berangkat" kataku
"kemana?"
"kemana lagi kalau bukan ke audisi menyanyi"
"kamu serius bil?"
Aku menganggukan kepala sambil tersenyum.
"syukurlah" Jefri terlihat senang sekali. Ia lalu
menggendongku, terik
matahari siang ini tak diperdulikannya dia begitu
semangat. Aku
berkali-kali menyuruhnya untuk berhenti dan
beristirahat tapi tetap saja
dia melanjutkan langkahnya.
"syukurlah, akhirnya kamu terdaftar juga" kata
Jefri dan melihat nomor
urutku, nomor 103.
"banyak sekali yang ikut audisi aku tidak yakin
bisa menang"
"Abil, jangan pesimis kamu pasti menang. Aku
yakin!!" Melihat semangat
Jefri yang mengembara aku jadi sadar, aku tidak
boleh putus asa lagi, aku
harus berjuang. Aku sekarang tidak peduli
dengan keadaan fisikku yang
cacat, yang tidak mempunyai kaki. Yang aku
pedulikan sekarang adalah aku
harus tetap menjalani hidupku, terus berjuang
dan tentunya aku tidak boleh
mengecewakan Jefri. Hingga akhirnya hari yang
aku dan Jefri tunggu datang
juga. Lomba menyanyi itu diadakan hari ini.
Banyak peserta yang menunggu
gilirannya. Ketika aku dan Jefri memasuki
ruangan dan duduk dikursi
peserta, semuanya menatapku. Aku tidak peduli
dengan tatapan aneh mereka
aku balas mereka dengan senyumanku. Jefri
menemaniku, hinga akhirnya
giliranku untuk bernyanyi.
"Abil, silakan maju keatas panggung" Aku gugup
sekali, tapi Jefri mencoba
menenangkanku. Dia menggendongku keatas
panggung lalu ia turun dan
melihatku dari bawah panggung. Musik mengalun
dan aku mulai menyanyi. Aku
begitu grogi ketika semua mata menatapku, tapi
ketika rasa grogi itu datang
aku alihkan pandanganku kesahabatku, Jefri. Aku
menyanyi sebaik-baiknya,
aku tersenyum memandang kearah Jefri.
Terimakasih banyak Jef, telah
mewujudkan impianku. Kini aku bisa bernyanyi
diatas panggung. Setelah
selesai, Jefri menjemputku turun dari panggung
dengan menggendongku. Ada
yang menangis, aku bingung kenapa orang itu
menangis dan ada juga yang
menatapku dengan tatapan aneh. Aku dan Jefri
keluar dari ruangan itu.
Pengumuman pemenangnya akan diumumkan 3
hari lagi. "tadi gimana rasanya?"
setelah sampai rumah Jefri bertanya padaku
sambil membuka nasi bungkus yang
barusan ia beli.
"gugup, sangat gugup. Tapi, ketika gugup aku
lihat kearahmu dan gugup itu
jadi hilang"
"kamu senang?"
"sangat sangat sangat senang!!" kataku
tersenyum dan melahap nasi bungkus
itu.
ôôô
Hari ini pengumumannya, aku dan Jefri sudah
berada ditempat audisi menyanyi
waktu itu. Banyak peserta yang gelisah dan
gugup menanti pengumuman.
"apa yang kamu rasakan?" tanya Jefri.
"tidak ada"
"kok tidak ada"
"aku tidak peduli menang atau kalah ikut audisi
dan bisa menyanyi diatas
panggung saja aku sudah senang, rasanya
seperti mimpi. Tapi, aku takut
mengecewakanmu"
"kenapa begitu?"
"ya aku takut kamu kecewa nanti kalau aku
kalah" Jefri mengacak-acak
rambutku.
"aku juga tidak peduli kamu menang atau kalah.
Yang aku mau kamu bisa
menyanyi diatas panggung dan buat kamu
senang. Yah, cuma itu" Aku tersenyum
mendengar itu, senyum yang sangat lebar.
Akhirnya pengumuman yang
ditunggu-tunggu datang juga. "terimakasih para
peserta sudah berkumpul
disini" salah satu juri membuka dengan
sambutan. Hingga akhirnya disebutkan
siapa-siapa saja yang menang. Dari juara
harapan dan juara terfavorite, dan
kini juara 3 sampai 1.
"juara 3 adalah Mia Ayu Radias" suara riuh
terdengar dan seorang wanita
dengan gembira naik ke atas panggung. "selamat
juara 3 mendapat uang
senilai 5 juta, dan sebuat tropi" wanita itu begitu
senang sekali, dan aku
begitu iri melihatnya. Seandainya, yang berada
dipanggung itu aku
"juara 2, Abil"
Yah, seandainya itu aku. Apa? Aku? Namaku
disebut. Jefri melonjak senang
"kamu menang bil" Dia menggendongku dengan
semangat dan seperti biasa semua
orang menatap kami dengan tatapan aneh
mereka.
"selamat ya, juara 2 mendapatkan uang 10 juta
dan sebuah tropi"
Aku tak percaya dengan ini semua. Berkali-kali
aku pejamkan mata lalu
membukanya berharap ini nyata, dan benar ini
memang nyata.
"juara pertama diraih oleh mmm, siapa ya? Indra
Bimantara, silakan maju
kedepan!"
Seseorang yang bernama Indra pun maju
kedepan "selamat! Juara pertama
mendapat uang 15 juta, tropi dan tentunya
hadiah liburan ke Bali" Hari ini
aku benar-benar senang. Aku bisa membuat
bangga Jefri.
"kita harus simpan baik-baik uang ini" katanya
ketika sampai dirumah.
"mau kita apakan uang ini?"
"aku sudah memikirkannya"
"apa yang kamu pikirkan" aku begitu bingung.
"aku ingin kita pindah dari Jakarta. Kita pergi
menjauh dari kebisingan
kota ini. Aku tidak mau kehidupan kita selalu
diganggu oleh Deni. Aku mau
kita pindah!"
"kemana?"
"kita pergi ke Bandung. Dengan uang sebanyak
ini kita bisa beli kursi roda
buat kamu dan tidak hanya itu kita bisa sewa
rumah yang layak untuk kita
tempati"
"Jefri, apa ini mimpi?"
"tidak, ini nyata"
Aku dan Jefri menaiki kereta dan kami pindah ke
Bandung sesuai dengan
rencana.
Ketika berada didalam kereta aku bertanya
padanya "Jef, apa kamu tidak malu
menggendongku?"
"tidak, kenapa kamu tanya seperti itu?"
"semua orang menatap kita dengan tatapan
aneh, aku tidak enak denganmu"
"tidak aku tidak malu sama sekali. Aku malah
malu jika aku jadi mereka.
Mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa itu
pengorbanan" Aku tersenyum
menatapnya. Aku lihat pemandangan dari balik
jendela kereta, Ya Tuhan
terimakasih. Kehidupanku dan Jefri kini lebih
baik dari yang dulu.
Terimakasih Jefri, kamu yang buat aku bertahan
hidup sampai sekarang, kamu
yang buat aku sadar dan terus berjuang
menjalani hidup. Sebenarnya bukan
aku yang menjadi bintang sekarang, tapi Jefri ya
dia bintangnya. Bintang
yang selalu menyinariku disaat aku redup hingga
aku kembali bersinar
seperti sekarang. Bintang untuk anak jalanan
sepertiku.





Created by Rina Ap1

Daftarkan email anda untuk update berita terbaru:

0 Response to "Bintang Untuk Anak Jalanan"

Poskan Komentar